Kadang-kadang aku lihat dia berusaha keras merasakan imajinasinya di dunia nyata. Aku ingat dia masih kecil ngumpulin kursi dan dingklik di rumah kontrakan dulu. Dia tumpuk menjadi menara yang goyang lalu menata ulang setiap pijakan ketiga kaki-kaki mungilnya. Diseberang ada aku masih kecil ngumpulin payung ke pekarangan, semua kubuka lalu bereksperimen menumpang tindihkan mereka menjadi sebuah gundukan. Dulu kita sering sembunyi dari imajinasi-imajinasi seram kita di ruang kecil bawah pepayungan itu. Sekarang aku bahkan lupa caraku dulu menyusun semua payung itu.

Kadang-kadang hanya ini yang kubutuhkan, beberapa menit saja melihat balik masa kecil saya.

Yuichi Ikehata - Fragment of LTM

Interactive Kinetic Sculpture by Joyce Lin

Passenger - Holocene (Bon Iver cover)

(Source: youtube.com)

Ludah dan Jari Tengah (=

Kalimat nanti menggunakan nada yang tenang, mungkin akan memancing adrenalin untuk menghampiri saya lalu memukuli saya (?) hahaha bercanda. Semacam peringatan diawal acara televisi yang diperuntukkan untuk anak-anak dengan bimbingan orang tua atau acara yang mungkin memicu tremor dan lain-lain. (hahahaha, nggak segitunya kok maaf)

Almarhum anjing saya itu lebih terhormat daripada sejumlah benda yang mengklaim bangga memiliki akal pikiran sebagai makhluk yang paling sempurna yang memberi brand dirinya sebagai ‘manusia’. Namanya Roli dan yang berdiri tertawa menginjak kuburan cerita-ceritanya akan berhadapan dengan saya. 

*smiley

"I like people who have a sense of individuality. I love expression and anything awkward and imperfect, because that’s natural and that’s real."

-Marc Jacobs

(Source: quotethat)


Sisipan Setelah Kata Cecunguk

Kemarin siang Tim mampir duduk di bis sama saya. Cerita monolog hal-hal yang menyenangkan sampai dia mengambill alih forum dan saya disuruh diam memperhatikan.

Dia bilang; Bay, aku punya sebuah metafora tentang who you are. You ready? Alright. Lihat ibu-ibu di belakang kananmu. Beliau memegang sebuah selang yang terhubung dengan pompa di dasar bis ini. Ingat tidak dulu Natali nasehatin kamu, dia bilang kalo kamu itu bisa ngomong, kamu punya materi untuk argumen terus-menerus sampai kamu memenangkan perdebatan untuk hal-hal tertentu. Semacam batu yang punya kepala dan kepala itu batu yang lebih keras. Dia nasehatin kamu untuk belajar mendengarkan orang lain, ingat?

Sekarang perhatikan selang itu, dari ujungnya keluar air yang menyembur keras sekali /si ibu tidak tahu harus berbuat apa. Itu kamu. Orang-orang yang berusaha menolong beliau menghentikan air selang itu adalah mereka yang pernah menghadapimu. Yang mereka lakukan adalah bergilir menekan ujung selang itu dengan ibu jari mereka. Mengerti? (Digilir? Yang benar saja?!)

Dengarkan aku. Kali selanjutnya bis ini berhenti, akan ada seorang penumpang yang naik melihat kekacauan dan panik semua orang menghadapi selang yang dikira bocor keras itu. (Dasar selang bajingan! -.-‘) Dia akan berjalan ke belakang bis ini dan mengambil alih mengendalikan keran airnya. Pertama dia masuk bis dari pintu depan mungkin kamu nggak ngeh, tapi kamu tau dia menghampiri si ibu memintanya untuk tenang kemudian memutar mati keran itu lalu duduk anteng menunggu bis ini sampai tujuan atau jatuh dalam runtun kecelakaan di depan.

Tugasmu sekarang sederhana, perhatikan saja siapa orang itu..*smiley