fleaingfrance

Hentakan jarinya membangunkanku menyeleksi kata untuk memulai cerita baru hanya pada kata pertama. Tidak begitu bangun sebenarnya, saya masih menolak setiap kata yang terdengar oleh angan-angan saya. Dia itu tidak ada, mungkin seperti ceritacerita yang lain saya mestinya harus memberi gambaran kepada kalian dia itu seperti apa. Um, dia terlihat seperti saya, jadi tidak ada lagi yang bisa saya ceritakan.

Kalimatkalimat yang idealnya kutulis tentang perilaku malah terbaca seperti gambar wajah ekspresi kata ‘senyum’. Senyum alien, yang anomali yang tidak umum, yang tidak sama sekali seperti senyum yang kumengerti dari masa kecil saya. Bibir kecil seperti ditarik 1cm ke kiri dan simetris. Sebelum kalimat yang dia bilang ke orang ketiga sudut pandang saya, ingatlah inisialku karena sepuluh tahun lagi jurnalis dan wartawan dunia hanya akan memiliki satu petunjuk untuk diberitakan tentang apa kesalahan yang sengaja kubuat. Semua yang mereka tau adalah inisial itu, yang bertanggungjawab atas hilangnya akal sehat dua puluh orang pertama yang berbalik berkata tidak pada dunia.

Bola mata yang kuperhatikan, kelopak matanya sedikit turun menyisakan dua pertiga warna hitam pekat irisnya. Mereka bercerita sedikit banyak tentang apa saja yang sudah dia lihat. Cerita tentang apa saja yang dia tolak selama sejak dia mampu bertutur kata.

this is quite encouraging.
Underwater Lovers ~ By Julio Sanjuan
Victoria Charlotte Pettersen
Refuge de Bouquetins in Valais, France.
Contributed by Hans Peter Roersma.